Bersabarlah dan Kuatkan Kesabaran

0
117

Sabar adalah bekal berharga yang harus dimiliki oleh seorang beriman dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan. Bahkan dalam surat Ali Imran ayat 200, Allah subhanahu wa ta’ala menyeru orang-orang beriman untuk memperkuat kesabaran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)

Syeikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, ada empat hal yang Allah perintahkan dalam ayat tersebut; Ishbiru, Shabiru, Rabithu, dan takwa. (Syarah Riyadhus Shalihin hal. 175)

1. Ishbiru

Ishbiru berkaitan dengan perintah untuk bersabar dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Yakni jangan melakukan, jauhi, dan jangan mendekati perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah.

Disebut sabar dari maksiat jika seseorang merasakan dorongan kuat yang mengajaknya untuk berbuat maksiat. Adapun jika seseorang tidak merasakan adanya dorongan dari dalam dirinya yang membujuknya untuk berbuat maksiat, maka tidak bisa dikatakan bahwa dia telah bersabar dari berbuat maksiat. Tetapi ketika muncul dorongan seperti itu, maka yang harus kita lakukan adalah bersabar dan menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan tersebut.

2. Shabiru

Adapun shabiru, ini berkaitan dengan perintah untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan. Bersabar dalam ketaatan penting untuk terus dijaga, karena dalam ketaatan terdapat dua hal:

1) Perbuatan yang dibebankan dan kewajiban untuk melaksanakannya.

2) Adanya perasaan berat bagi jiwa. Karena melaksanakan ketaatan itu sama beratnya dengan meninggalkan maksiat yang sama-sama terasa berat bagi jiwa manusia yang cenderung selalu mengajak kepada keburukan.

3. Rabithu

Rabithu yaitu memperbanyak berbuat amal kebaikan dan tetap konsisten dalam mengerjakannya. Oleh karena itu ketika membicarakan tentang amalan yang dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat, Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda,

إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

 “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Yang demikian itulah ar Ribath” (HR. Muslimno. 251)

Dalam hadis tersebut Rasulullah menyebutnya sebagai ribath, karena pada amalan-amalan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan dalam mengerjakan ketaatan dan memperbanyaknya.

4. Takwa

Takwa mencakup keseluruhan dari ketiganya. Karena takwa mengandung pengertian menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah subhanahuwa ta’ala, dan hal itu terwujud dengan jalan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Pada akhir ayat, Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menutupnya dengan kalimat “agar kalian beruntung”. Ini menjelaskan bahwa melaksanakan keempat hal di atas akan menjadi sebab memperoleh al-falah (keberuntungan). Dan makna keberuntungan dalam Al-Qur’an selalu berkisar pada dua hal, yaitu: terkabul apa yang diharapkan dan selamat dari sesuatu yang ditakuti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here